Tertawa Bersama BK-2

0aa833f42021819c_large

Pesta Yang Memalukan

Pernah dalam suatu resepsi di Istana Merdeka, seorang pejabat tinggi membisiki Bung Karno, bahwa saputangan kecil berwarna putih yang menghiasi saku jas Jusuf Muda Dalam agar diambil BK. Itu bukan saputangan asli, tetapi palsu! Tentu saja BK ingin tahu dan terus berusaha mendekati Jusuf Muda Dalam. Pak Jusuf sendiri tidak menaruh curiga ketika didekati BK dengan tersenyum. Setelah dekat sekali, BK tiba-tiba mengambil hiasan putih yang menyerupai setrip putih di atas saku jas Pak Jusuf.

Pak Jusuf terperanjat dan berusaha mempertahankannya. Tetapi sudah terlambat karena benda itu sudah di tangan BK. Ketika BK membuka kain putih itu, orang-orang tertawa terbahak-bahak. Mereka melihat sebuah pakaian dalam perempuan, bersih, putih, dan masih baru. Tetapi itu celana dalam untuk boneka kecil.

Presiden Menunggu Pengawal

Pernah ada kejadian langka, Bung Karno harus menunggu seorang pengawalnya. Peristiwa itu berlangsung ketika BK pergi ke rumah dokter gigi di Kota Baru, Yogyakarta, dengan sopir Pak Arif, beserta ajudan Pramurahardjo dan dikawal Sudiyo.

Belum lama BK tiba di rumah dokter itu, Sudiyo lapor kepada ajudan presiden, perutnya sakit. Atas keputusan ajudan, Pak Arif diperintahkan mengantar Sudiyo pulang ke istana, dan membawa seorang pengawal pribadi yang sedang bertugas, sebagai pengganti.

Sebelum mobil tadi kembali ke rumah dokter, BK sudah pamit kepada tuan rumah, untuk segera kembali ke istana. Setelah BK sampai di serambi depan, ajudannya gelisah. Ajudan pun melaporkan, mobil belum datang karena dipakai mengantar Sudiyo yang sedang sakit perut, pulang ke istana. Mendengar laporan itu, BK tidak marah, malah berkata, “Baik, tidak apa­-apa. Saya tunggu dulu di sini.”

Setelah mobil dan pengawalnya datang, Bung Karno pamit lagi kepada tuan rumah. Sampai di halaman istana, beliau melihat Sudiyo yang tadi sakit perut telah berdiri tegap di serambi istana, siap membuka pintu mobil BK. Bung Karno langsung bertanya kepada Sudiyo, “Kamu tadi sakit perut?” Sudiyo menjawab, “Ya, Pak.”

Bung Karno selanjutnya menganjurkan kepada Sudiyo, agar lain kali kalau hendak tugas supaya makan pagi dulu, jadi tidak masuk angin. Sambil malu-malu Sudiyo kembali menjawab, “Ya, Pak.”

Debat Bung Karno dan Sopir

Dalam suatu perjalanan jauh, BK pernah bertanya pada Pak Arif, “Rif, apa ini yang bunyi berisik?”

Pak Arif menjawab dengan tenang, “Mobilnya, Tuan.”

Bung Karno kembali bertanya, “Kenapa tidak kau cari yang berisik itu dan kau betulkan?”

Pak Arif menjawab, “Dicari sih sudah, Tuan. Tetapi belum ketemu. Orang namanya besi beradu dengan besi, tentu saja berisik sekali, Tuan.”

Mendapat jawaban dari Pak Arif, Bung Karno tidak lagi bertanya.

Perhatian Sang Presiden

Pernah juga BK membatalkan keberangkatan rombongan sewaktu akan meninggalkan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Karena BK mengetahui, semua pengawal belum mendapat sarapan pagi. Padahal rombongan sudah siap berangkat. Bung Karno memerintahkan ajudan supaya keberangkatannya ditunda sampai para pengawal selesai makan pagi.

Selanjutnya, BK memerintahkan ajudannya supaya selalu memperhatikan semua sopir dan pengawal yang sedang bertugas mengawalnya, jangan sampai mereka telantar makan dan minumnya.

Presiden Dibentak Pembagi Roti

Di Istana Merdeka Jakarta, pertengahan 1950, Sudiyo gendut sedang bertugas mengambil sarapan roti dari dapur untuk kawan-kawannya di paviliun. Ketika sedang komat-kamit menghitung jumlah roti yang dibawanya, ia berpapasan dengan Bung Karno yang sedang jalan pagi di halaman istana. Sudiyo memberi salam dengan santai, “Goede morgen mijnheer,” sambil terus berlalu. Ia mengira sedang berpapasan dengan Ven Der Bijl, orang Belanda yang bertugas di istana.

Mendengar ucapan salam itu, Bung Karno langsung berhenti. Beliau menoleh ke arah Sudiyo, dan bertanya kepada pengawalnya, “Siapa dia?”

“Sudiyo gendut, Pak,” jawab sang pengawal.

Bung Karno mengajak pengawalnya itu membuntuti Sudiyo. Ketika Sudiyo sambil jongkok masih juga sibuk menghitung jumlah roti yang dibawanya, BK berdiri di belakangnya sambil berkata, “Kalau rotinya masih saja kurang, ambil lagi ….”

Tanpa menoleh Sudiyo malahan membentak dengan suara keras, “Ya, nanti saja wong masih dihitung kok.”

Bung Karno tertawa, tetapi pengawal langsung menegur Sudiyo, rekannya itu, “He, lihat dulu, kamu sedang bicara dengan siapa?”

Begitu menoleh, Sudiyo baru tahu Bung Karno sudah berdiri di belakangnya. Dengan gemetaran Sudiyo langsung berdiri dan dengan sikap sempurna, melapor, “Siap Pak, Sudiyo mohon maaf.” BK tersenyum dan meneruskan jalan pagi sambil mengontrol kebersihan serta kerapian tanaman di halaman.

Pohon Sawo Berbuah Polisi

Di halaman Istana Yogyakarta yang luas, tumbuh beberapa pohon buah-buahan, antara lain mangga, jambu, kedondong, dan sawo. Kalau sedang panen buah-buahan, Ibu Fatmawati sering membagi-bagi buah-buahan itu.

Pada suatu hari, Bung Karno memergoki seorang anggota Polisi Pengawal Pribadi sedang berada di atas pohon sawo. Anggota polisi itu tahu kalau BK mendekati pohon sawo dan mengira tidak melihatnya. Saking ketakutannya, dia diam di atas pohon tanpa bergerak dengan harapan tak diketahui BK. Bung Karno sengaja tak mau melihat ke atas pohon sawo itu. Kepada polisi yang ada di dekatnya, ia berkata, “Itu buah sawonya kok tambah?”

Anggota pengawal yang diajak bicara kontan tertawa, pengawal yang ada di atas pohon pun ikut tertawa, tapi dengan nada ketakutan. Lalu Bung Karno berkata lagi, “Bapak ‘kan sudah bilang, biar buahnya tua dan matang dulu. Nanti kamu orang juga dibagi. Kalau kamu tidak sabar, pindahkan saja pohon sawo ini ke dekat asramamu itu ….”

Bung Karno kemudian meninggalkan pohon sawo itu. Setelah BK tidak kelihatan lagi, polisi yang ada di atas pohon baru berani turun. Kawan-kawannya pun mengejek, “Rasain lu.” Mulai saat itu, tidak ada lagi yang berani memanjat pohon buah-­buahan.

Salam: Tony Mardianto

Tertawa Bersama BK-1

HU024594

Presiden Juga Bisa Minta Ma’af

Pernah suatu hari di Jakarta, BK marah sekali. Delapan orang pengawal dikumpulkan lalu ditempeleng satu per satu. “Saya mohon Bapak sabar dulu …,” kata Mangil, salah satu korban kemarahan. Belum sampai habis bicara, BK membentak Mangil, “Diam!” Anggota pengawal yang baru saja menerima hadiah bogem mentah itu saling melihat satu sama lain dan semua ketawa kecil.

Setelah kembali ke istana, Bung Karno memanggil Mangil, dan berkata, “Mangil, kau mau tidak memaafkan Bapak? Bapak meminta maaf kepada anak buahmu. Ternyata Bapak berbuat salah kepada anak buahmu.”

“Tidak apa-apa, Pak,” jawab Mangil. Kemudian Bung Karno merangkul Mangil. Belakangan diketahui, BK telah menerima laporan yang salah dari orang lain mengenai salah satu anak buah Mangil.

Banyolan Pengawal Pribadi

Seperti biasanya Bung Karno pergi sore hari bersama Ibu Fatmawati dengan mobil. Mobil Bung Karno di garasi tidak dapat distarter oleh Pak Arif, sopirnya. Begitu tutup mesinnya dibuka, ternyata accu-nya tidak ada.

Accu mobil dipakai oleh ajudannya tanpa memberi tahu terlebih dahulu kepada Pak Arif dan tanpa seizin Bung Karno. BK pun marah. Anggota pengawal pribadi tak berani berkutik. Mereka malah bersikap sempurna dengan berdiri tegap, juga tidak berani bergerak sedikit pun, kecuali matanya yang kedap­kedip, sehingga BK tertawa melihatnya.

Prihatin Yang Memprihatinkan

Biasanya, kalau BK sedang marah, tidak ada yang berani menghadap, kecuali Prihatin, salah seorang anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden. Ketika makan bersama di Istana Tampaksiring di Bali, BK berkata, “Kamu orang itu terlalu. Kalau saya sedang marah, selalu Prihatin yang kau suruh menghadap. Dia sering saya semprot dan saya tahu dia tidak salah. Saya merasa kasihan sama Prihatin. Besok kalau saya ke luar negeri, Prihatin akan saya ajak. Lha mbok kalau saya sedang marah, yang disuruh menghadap saya seorang wanita cantik dengan membawa map surat-surat yang harus saya tanda tangani, ‘kan saya tidak jadi marah. Jullie te erg. Lagi-lagi Prihatin yang datang!” Betul saja, waktu BK pergi ke Kanada, Prihatin diajak.

Kaca Mata

BK juga pernah marah sekali dan berkata, “Godverdomme. Saya tidak akan berangkat kalau kacamata Bapak tidak ada.” Saat itu BK hendak membaca surat dalam perjalanan dari istana ke lapangan terbang Kemayoran. Ternyata kacamatanya tertinggal di istana.

Radio Kenangan

Suatu pagi Bung Karno jalan kaki mengelilingi istana. Dari arah kamar ajudan presiden, ia mendengar suara radio diputar keras. Ia bertanya kepada seorang pengawalnya, “Siapa itu yang nyetel radio keras-keras?” Polisi pengawal menjawab, bahwa radio itu ada di dalam kamar ajudan. Sang presiden masuk ke ruang ajudan itu, dan berkata, “Kunnen jullie niet leven zonder radio?” (Tidak dapatkah kalian hidup tanpa radio [keras-keras]). Kebetulan yang ada di ruang itu Kapten Andi Jusuf, yang dijadikan umpan oleh Gandhi dan Mangil.

Salam: Tony Mardianto

Hijrah Ala Bung Karno

sjahrir-bung-karno-bung-hatta

Jakarta ternyata bukanlah satu-satunya kota yang menjadi Pusat Pemerintahan. Yogyakarta juga pernah memberikan sumbangsih yang besar bagi negeri ini. Yogyakarta menjadi pilihan Bung Karno untuk dijadikan pusat pemerintahan sementara.

Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, tentara Belanda makin mengancam keamanan Bung Karno dan keluarga. Dari kediaman di Jl. Pegangsaan Timur 56, Jakarta, BK beserta keluarganya diungsikan ke rumah keluarga Mualif Nasution, Sofyan Tanjung, dan ke rumah kawan-kawan dekat BK di Jakarta.

Pada 30 Desember 1945, setiap hari menjelang gelap, di sekitar tempat tinggal Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir terdengar tembakan-tembakan hampir semalam suntuk. Tentara Belanda setiap malam bahkan siang hari pun melakukan teror.

Tanggal 3 Januari 1946, sekitar pukul 18.00, Bung Karno, Bung Hatta, beserta rombongan meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Rombongan naik kereta api luar biasa (KLB). Ikut diangkut kereta itu, dua buah mobil kepresidenan Buick 7 seat bercat hitam dan de Soto bercat kuning.

Sebelum BK dan rombongan naik KLB, beberapa kali KLB pura-pura langsir di rel kereta belakang rumah BK, untuk mengelabuhi tentara Belanda. Lampu-lampu dalam KLB sengaja tidak dinyalakan. Setelah semua rombongan naik, dengan aksi langsir KLB bergerak perlahan-lahan meninggalkan Kota Proklamasi. Sampai di Stasiun Manggarai, KLB berhenti. Tentara Belanda yang terdiri atas orang Indonesia melihat-lihat gerbong depan KLB ini. Karena gelap gulita, mereka tidak memperhatikan gerbong belakang dan mengira semua gerbong kosong. Selanjutnya, KLB bergerak lagi meninggalkan Manggarai.

Tiba di Stasiun Jatinegara suasana lebih ngeri lagi. Tentara Belanda yang baru saja diserang TKR memperhatikan KLB. Beruntung mereka tidak masuk ke dalam gerbong, karena situasinya gelap. Berhenti sebentar kemudian KLB bergerak menuju Yogyakarta. Rombongan presiden tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta pada 4 Januari 1946 pagi. Usai upacara penerimaan di Stasiun Tugu, rombongan menuju Pura Pakualaman, istana Sri Paku Alam. Setelah istana siap, Bung Karno dan keluarga meninggalkan Pakualaman dan pindah ke bekas rumah gubernur Belanda di Jalan Malioboro, persis di depan Benteng Vredeburg. Bung Karno sempat berpidato di RRI Yogyakarta untuk mengumumkan ke seluruh dunia bahwa Pemerintah RI sejak saat itu dipindahkan ke Yogyakarta.

Salam: Tony Mardianto

Foto Soekarno 026-030

tonys file 026

Presiden Soekarno 026


tonys file 027

Presiden Soekarno 027


tonys file 028

Presiden Soekarno 028


tonys file 029

Presiden Soekarno 029


tonys file 030

Presiden Soekarno 030


Salam: Tony Mardianto

Foto Soekarno 021-025

tonys file 021

Presiden Soekarno 021


tonys file 022

Presiden Soekarno 022


tonys file 023

Presiden Soekarno 023


tonys file 024

Presiden Soekarno 024


tonys file 025

Presiden Soekarno 025

Salam: Tony Mardianto

Foto Soekarno 016-020

tonys file 016

Presiden Soekarno 016


tonys file 017

Presiden Soekarno 017


tonys file 018

Presiden Soekarno 018


tonys file 019

Presiden Soekarno 019


tonys file 020

Presiden Soekarno 020


Salam: Tony Mardianto

Foto Soekarno 011-015

tonys file 011

Presiden Soekarno 011


tonys file 012

Presiden Soekarno 012


tonys file 013

Presiden Soekarno 013


tonys file 014

Presiden Soekarno 014


tonys file 015

Presiden Soekarno 015


Salam: Tony Mardianto

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.